Wednesday, April 08, 2009
Selamat nyontreng!
Besok udah saatnya pemilu, bukan?

Saya harus bekerja dan benar-benar tidak memiliki hasrat untuk berangkat ke KBRI serta menghabiskan uang transportasi sebanyak 15 euro hanya untuk memilih moncong-moncong manusia yang tidak jelas juntrungannya.

Apa yang mau saya pilih? Seperti apa? Visinya apa? Bisa apa mereka? Mungkin memang saya yang terlalu negatif. Memandang semua orang sama. Semuanya (atau sebagian besar dari mereka) pasti orang pintar tapi sama-sama cuman jualan kecap. Ada yang jualan kecap ala "Bapak Saya Pendiri Bangsa", "Bisa Saja Saya Kudeta", "Swasembada Beras Karena Saya", dan masih banyak lagi.

Orang-orang awam politik, rakyat jelata, kebanyakan menolak untuk menggunakan hak pilihnya. Golput, katanya. Lebih baik tidak memilih, daripada mengotori tangan untuk memilih calon yang bau. Ada yang belum bau? Kalo kata mereka, "pasti bau kok! cuman sekarang belum kecium aja!". Pernyataan yang tidak bisa ditentang. Orang kalau sudah ada di lingkaran kekuasaan kebanyakan akan terlena, kebanyakan dari mereka lupa dengan orang yang memilihnya. Jauh lebih penting orang yang "menggaji" mereka.

Orang yang jadi korban penculikan saja, sekarang menjadi orang yang paling pasang badan membela penculiknya. Stockholm syndrome? atau cuman satu penyakit bernama ndeso: mata duitan.

Mungkin uang adalah Tuhan di mata mereka. 

Namun, para so-called pengamat politik, justru menganjurkan yang sebaliknya. Jangan golput. Ada email berikuta masuk ke salah satu milis yang kebetulan saya ikuti:

Malah saya sarankan teman teman jangan berGolput, karena banyak bahaya mengintip sambil melirik sebelum menerkam, dan bahaya bahaya tsb terlalu besar utk dilewatkan dgn berGolput.

Gus Bowie dgn Gerindra-nya barusan ramai didukung oleh belasan jenderal pur ("jenpur takabur", istilahnya di sini) dengan retorika berbusa-busa soal NKRI, mis. kembali ke UUD-1945 "murni" yg cenderung mendorong kediktaturan, dgn cara membatalkan semua amandemen UUD pasca-1998, termasuk soal ham.

Bukan main! Inilah salah satu Indonesia's hot potatoes today (hete hangiyzers).
.
Makanya, saya pikir: Ada tiga kunci untuk menyontreng pada 9 April: membela HAM, menjaga kebhinekaan, dan anti fasis. Pasti tak ada yang persis seperti itu, tapi cari yang deket-deket itu. Lebih baik ketimbang berGolput atau nunggu 2014

Perhatikan kalimat yang saya tebalkan. Pertanyaan saya sih sederhana, memangnya ada ya? Saya sudah mengirimkan email melalui jalur pribadi kepada yang bersangkutan. Sekedar memastikan dia partisan partai mana.

Salah satu orang yang saya hormati disini juga mengatakan jalur partai adalah satu-satunya sarana untuk orang-orang muda penerus bangsa menjadi pemimpin di negeri ini. Ketika saya katakan kalo semua orang partai itu sama saja, ujung-ujungnya duit, beliau menyampaikan ketidaksetujuannya. Tidak semuanya begitu. Begitu kata beliau. Itu sebabnya kita harus menggunakan hak pilih pada saat pemilu dan mencoba memilih yang terbaik.

Saya hanya mendengarkan dan berusaha merenungi serta (berusaha) menjadi salah satu orang partai yang baik di masa depan. Ok. Silakan kalau Anda mau mengajak saya menjadi partisan partai kesayangan Anda. Namun saya mohon jangan dari PKS, saya sudah bosan menerima surat cinta dan segala kata-kata indah dari kader partai mereka. Tidak kok. Saya tidak anti-PKS. Saya biasa-biasa saja. Saya hanya bosan mendengar ayat-ayat suci Al Quran yang dijadikan alat kampanye oleh mereka, namun ketika ada yang bertanya, mereka malah diam saja.

Sudahlah, itu tak penting. Mungkin saja ternyata semua partai seperti itu. Malah mungkin, saya suatu hari akan seperti itu. Semoga saja tidak.

Jadi, apa yang Anda lakukan esok hari? Menggunakan hak pilih (dan kemungkinan besar menggunakan hak cuti), atau tidak. Itu murni pilihan Anda. Tapi sungguh jangan berharap kalau suara Anda akan dapat mengubah arah bangsa ini. Bangsa ini akan menjadi besar bukan dimulai dari sarang tikus bernama pemerintahan, tapi dari kemauan rakyat Indonesia secara keseluruhan, bahu membahu, untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang hebat.

Lagipula, suara Anda juga bisa dimanipulasi kok. Kalo anak dari presiden sekarang saja sudah berkelakuan sama seperti pemimpin orde baru, yang menggunakan kekuasaannya untuk membeli suara, mencengkram media, masak suara kita juga akan dihitung secara murni? Maaf, saya tidak percaya. Kita mulai balik lagi ke orde baru, nah itu saya baru percaya.

Sudah, sudah, padahal saya cuman mau bilang, selamat nyontreng! Eh, malah ngalor ngidul nggak jelas begini.
 
posted by Ardho at 11:43 PM | Permalink |


2 Comments:


  • At Thu Apr 09, 10:26:00 AM CEST, Blogger Indri

    tapi kalo aku jadi calon legislatif/presiden someday,kamu pasti pilih aku kan?! hahahaha

     
  • At Fri Apr 10, 08:26:00 PM CEST, Blogger David Pangemanan

    INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak 'bodoh', lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung
    di bawah 'dokumen dan rahasia negara'.
    Maka benarlah statemen KAI : "Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap". Bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah sangat jauh sesat terpuruk dalam kebejatan.
    Permasalahan sekarang, kondisi bejat seperti ini akan dibiarkan sampai kapan??
    Sistem pemerintahan jelas-jelas tidak berdaya mengatasi sistem peradilan seperti ini. UUD 1945 mungkin penyebab utamanya.
    Ataukah hanya revolusi solusinya??

    David
    HP. (0274)9345675

     

Post a Comment

~ back home